Misteri Setum Tlekung, Cerobong Kuno yang Bertahan dari Zaman Belanda hingga Jepang
Sebuah cerobong tua yang berdiri di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menyimpan jejak panjang sejarah lintas zaman.
BATU – Sebuah cerobong tua yang berdiri di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menyimpan jejak panjang sejarah lintas zaman. Warga setempat menyebut bangunan itu sebagai Setum, sebuah cerobong kuno yang diyakini sudah ada sejak era penjajahan Belanda dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Kepala Desa Desa Tlekung, Mardi, mengatakan keberadaan Setum kini menjadi salah satu daya tarik utama di kawasan desanya. Selain memiliki nilai sejarah tinggi, bangunan tersebut juga menyimpan banyak cerita yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.
"Setum ini menjadi saksi perjalanan sejarah di Desa Tlekung. Dari zaman Belanda, Jepang, hingga Indonesia merdeka, bangunan ini masih tetap berdiri dan menjadi bagian penting dari identitas desa kami," katanya, Selasa (26/5/2026).
Menurut masyarakat, pada masa kolonial Belanda kawasan Setum diduga digunakan sebagai pabrik barang pecah belah. Dugaan itu muncul karena di bawah cerobong ditemukan bekas ruangan luas yang kini sudah tertimbun tanah dan berubah menjadi area pertanian.
"Dulu, cerobong tersebut diyakini digunakan sebagai tempat pembakaran kaolin, bahan utama pembuatan keramik dan peralatan pecah belah," ujarnya.
Dugaan itu juga diperkuat oleh cerita seorang warga yang semasa kecil pernah memanjat hingga ke puncak cerobong dan menemukan tulisan Anno, istilah latin yang biasa digunakan untuk menandai tahun pendirian bangunan pada era kolonial Belanda.
"Bahkan, di sekitar lokasi juga ditemukan sejumlah bekas peluru berkaliber besar yang diduga menjadi penanda bahwa kawasan tersebut pernah menjadi lokasi pertempuran pada masa penjajahan," terangnya.
Memasuki era pendudukan Jepang pada 1942, fungsi Setum berubah. Cerobong itu digunakan sebagai cerobong uap untuk pabrik penyamakan kulit milik tentara Jepang.
Kulit hewan yang diolah di tempat tersebut disebut digunakan untuk memproduksi perlengkapan militer seperti sepatu lars, ikat pinggang, hingga tas logistik perang.
"Jadi dulu Setum ini bukan sekadar cerobong biasa. Ada sejarah besar yang pernah terjadi di sini. Karena itu sekarang kami berupaya menjaga dan mengenalkannya kepada generasi muda," tambah Mardi.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Setum tidak lagi mengeluarkan asap industri. Bangunan bersejarah itu justru disulap menjadi ikon wisata sejarah Desa Tlekung.
"Kami berharap keberadaan cerobong kuno tersebut dapat terus dilestarikan sekaligus menjadi pengingat perjalanan panjang Desa Tlekung dan Kota Batu di masa lalu," tutupnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

