Kota Batu selama ini dikenal sebagai daerah penghasil apel. Namun di Desa Tulungrejo muncul komoditas unggulan baru yang mulai menarik perhatian, yakni jamur tiram.
BATU – BATU - Kota Batu selama ini dikenal sebagai daerah penghasil apel. Namun di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, muncul komoditas unggulan baru yang mulai menarik perhatian, yakni budidaya jamur tiram dengan berbagai varian warna yang tidak hanya layak konsumsi, tetapi juga memiliki nilai edukasi, kesehatan, dan wisata.
Pengembangan jamur tiram tersebut dilakukan oleh CV Arsuha Multi Karya yang menaungi lembaga edukasi dan wisata. Di sana, beragam jenis jamur dibudidayakan, mulai dari jamur tiram putih, abu-abu, coklat, pink, hijau hingga jamur tiram estetik yang memiliki tampilan warna-warni menarik.
Direktur CV Arsuha Multi Karya, Achmad Arthur Julio Tampi, mengatakan pengembangan jamur tiram di Tulungrejo tidak hanya berorientasi pada sektor pangan, tetapi juga kesehatan dan wisata edukasi.
"Selain bisa dikonsumsi, jamur ini juga memiliki kandungan nutrisi dan senyawa aktif yang bermanfaat sebagai obat pendamping berbagai penyakit," ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Arthur, jamur tiram estetik merupakan jenis jamur dengan warna cerah dan unik yang tetap aman dikonsumsi. Keberadaannya dinilai mampu memberikan nilai tambah karena dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, objek wisata, tanaman hias hingga bahan pangan bernutrisi.
Ia menjelaskan, setiap jenis jamur memiliki manfaat kesehatan yang berbeda. Jamur tiram putih mengandung protein, serat, dan vitamin B yang bermanfaat membantu menurunkan kolesterol, mengontrol gula darah, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
"Sementara jamur tiram abu-abu memiliki kandungan beta-glukan tinggi yang baik untuk kesehatan jantung, membantu mencegah anemia, serta berfungsi sebagai antioksidan alami," bebernya.
Seperti, jamur tiram coklat memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi yang membantu melawan radikal bebas, menjaga tekanan darah, dan melancarkan sistem pencernaan.
"Sedangkan jamur tiram pink kaya akan likopen yang baik untuk kesehatan kulit dan mata. Adapun jamur tiram hijau mengandung klorofil alami yang dipercaya membantu proses detoksifikasi tubuh," ujar Rambing, sapaannya.
Arthur menambahkan, secara umum seluruh varian jamur tiram yang dikembangkan bersama warga dan didukung wahana wisata Mikutopia mengandung senyawa aktif yang berpotensi membantu menurunkan kadar kolesterol, memiliki sifat antidiabetes, anti-inflamasi, serta mendukung pemulihan kesehatan.
"Jadi selain memberikan manfaat kesehatan, budidaya jamur tersebut juga mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Tulungrejo melalui pengembangan wisata edukasi dan peningkatan keterampilan warga," ungkap dia.
Sementara itu, Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, menilai keberadaan jamur tiram estetik menjadi inovasi yang mampu memperkuat identitas desa sekaligus meningkatkan nilai jual produk lokal.
"Kami menyambut baik pengembangan ini. Keberadaan jamur tiram estetik menjadi terobosan yang mengangkat potensi desa menjadi produk bernilai jual tinggi," ujarnya.
Menurutnya, pengembangan komoditas tersebut tidak hanya mendukung sektor pariwisata berbasis edukasi, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
"Dengan adanya wahana wisata Mikutopia yang bertema jamur tentu sangat pas dengan adanya pengembangan jamur dan sarana edukasi bagi pelajar atau masyarakat," tuturnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

