Telaga Wendit: Jejak Sunyi dari Era Mataram Kuno hingga Perjalanan Raja Majapahit
Telaga Wendit di Kabupaten Malang yang dikenal sebagai destinasi wisata air itu, telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban Jawa sejak lebih dari seribu tahun lalu.
MALANG – Di tengah riuh tawa pengunjung yang berenang dan bersantai di kawasan Wisata Wendit, tidak banyak yang menyadari bahwa tempat rekreasi keluarga ini menyimpan lapisan sejarah yang sangat panjang. Telaga yang hari ini dikenal sebagai destinasi wisata air itu diduga telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban Jawa sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Terletak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Wendit bukan hanya sekadar tempat bermain air. Di balik kolam, pepohonan tua, dan kawanan kera yang berkeliaran, terdapat jejak arkeologi yang menghubungkan kawasan ini dengan masa Kerajaan Mataram Kuno hingga era Kerajaan Majapahit.
Sejarawan Malang, Dwi Cahyono, menyebut Wendit sebagai salah satu kawasan yang memiliki nilai historis dan arkeologis kuat, meski selama ini lebih dikenal sebagai objek wisata.
Jejak dari Abad ke-9
Menurut Dwi, konteks sejarah Wendit dapat ditelusuri melalui dua sumber penting, yakni Prasasti Balingawan dan Prasasti Muncang.
Kedua prasasti tersebut menunjukkan bahwa wilayah Malang telah menjadi bagian dari jaringan permukiman dan aktivitas keagamaan sejak abad ke-9.
“Prasasti Muncang itu tahun 944, jadi sekitar 50 tahun lebih muda dari Prasasti Balingawan. Ada kemungkinan candi di Wendit itu berasal dari masa yang sama dengan era prasasti Balingawan, yaitu akhir abad ke-9 pada masa Mataram,” ujar Dwi, Jumat (13/3/2026).
Pada masa tersebut, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno masih berada di Jawa Tengah. Kekuasaan kerajaan baru bergeser ke Jawa Timur setelah masa pemerintahan Mpu Sindok pada awal abad ke-10.
Di kawasan Wendit sendiri, Dwi menemukan sejumlah indikasi adanya situs kuno berupa sisa-sisa struktur bata yang diduga merupakan bagian dari candi dan petirtaan.
“Di Wendit itu ada candi dan ada petirtaan. Biasanya kalau ada candi pasti ada petirtaan. Dan di sini ada dua-duanya,” jelasnya.
Petirtaan dalam tradisi Hindu-Buddha merupakan tempat pemandian suci yang digunakan untuk ritual penyucian diri, biasanya berada di dekat sumber mata air atau telaga alami.
Bertahan Hingga Era Majapahit
Menariknya, menurut Dwi, keberadaan bangunan suci di Wendit kemungkinan tidak berhenti pada masa Mataram saja. Ia menduga kawasan ini tetap dimanfaatkan hingga masa Kerajaan Majapahit.
“Keberadaan bangunan suci itu kemungkinan terus dimanfaatkan sampai masa Majapahit. Jadi tidak berhenti di era Mataram,” ujarnya.
Dugaan ini semakin kuat ketika Dwi mengaitkan Telaga Wendit dengan sebuah tempat yang disebut dalam kitab kuno Negarakertagama.
Dalam naskah yang ditulis pada abad ke-14 itu, disebutkan sebuah telaga bernama “Bureng”, tempat yang disinggahi rombongan Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan keliling wilayah kerajaan pada tahun 1359.
Di dalam kitab tersebut, Bureng digambarkan sebagai telaga dengan air berwarna kebiruan.
“Negarakertagama menyebut ada telaga bernama Bureng dengan air kebiruan. Itu mengingatkan saya pada kondisi Telaga Wendit di masa lalu,” kata Dwi.
Persinggahan Raja Majapahit
Dalam catatan perjalanan tersebut, rombongan raja terlebih dahulu bermalam di sekitar Candi Jago, yang dalam naskah kuno disebut Jajaghu.
Keesokan paginya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju wilayah Singhasari dan sempat berhenti di sebuah telaga.
“Setelah bermalam di sekitar Jajaghu, paginya rombongan kembali menuju Singhasari dan sempat singgah di Bureng. Digambarkan telaganya berwarna kebiruan,” tutur Dwi.
Secara geografis, jalur perjalanan dari Tumpang menuju Singhasari tanpa melalui kawasan Kalisari dinilai lebih masuk akal bagi rombongan kerajaan yang menggunakan kuda dan kereta.
“Kalau lewat Kalisari akan terhalang dua sampai tiga sungai. Jadi lebih mungkin lewat jalur lain yang memungkinkan rombongan berkuda dan berkereta,” jelasnya.
Dari Telaga Suci Menjadi Tempat Wisata
Jejak sejarah Wendit tidak berhenti pada masa kerajaan. Pada era kolonial, kawasan ini sudah dikenal sebagai tempat rekreasi.
Orang-orang Belanda pada masa itu menyebut Wendit dengan nama “Banyu Biru”, merujuk pada warna air telaga yang tampak kebiruan.
“Belanda menyebutnya Banyu Biru karena airnya memang kebiruan. Itu menjadi daya tarik utama selain keberadaan kera,” kata Dwi.
Sejak akhir abad ke-19 hingga awal 1900-an, Wendit bahkan telah menjadi destinasi wisata populer bagi warga Eropa yang tinggal di Malang. Sejumlah foto lama menunjukkan anak-anak Belanda memberi makan kera di sekitar telaga.
“Sejak masa kolonial itu sudah jadi tempat wisata. Orang datang menikmati telaga dan melihat kera-kera di sana,” ujarnya.
Pesona yang Mulai Memudar
Meski masih ramai dikunjungi hingga sekarang, Dwi menilai banyak perubahan terjadi pada lanskap asli Wendit akibat pembangunan wisata modern.
Bentuk alami telaga yang dulu luas dan jernih perlahan berubah.
“Sekarang telaganya seperti selokan besar. Warna kebiruannya juga sudah tidak terlihat. Padahal itu pesona utamanya,” ungkapnya.
Bagi Dwi, jika dugaan keterkaitan Wendit dengan catatan dalam Negarakertagama dapat dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut, maka posisi Wendit akan menjadi jauh lebih penting dalam sejarah Jawa.
Bukan hanya sebagai tempat wisata lokal, tetapi juga sebagai bagian dari jejak perjalanan spiritual raja besar Majapahit.
“Wendit itu bukan sekadar tempat wisata. Ini kawasan bersejarah dengan jejak panjang, dari Mataram Kuno hingga Majapahit,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

