Selecta Batu Sulap Sampah Jadi Karya, Kini Punya Galeri dan Wisata Edukasi
Kota Batu itu juga menjadi pusat edukasi pengelolaan sampah setelah berhasil menerapkan sistem zero waste atau nol sampah keluar kawasan.
BATU – Taman Rekreasi Selecta tak hanya dikenal dengan taman bunga dan wahana rekreasi. Kini, destinasi legendaris di Kota Batu itu juga menjadi pusat edukasi pengelolaan sampah setelah berhasil menerapkan sistem zero waste atau nol sampah keluar kawasan.
Di kawasan Selecta ada dua tempat berbeda yang cukup menarik yaitu pengolahan sampah secara mandiri serta laboratorium dan galeri olahan sampah yang memajang produk-produk hasil dari sampah antara lain, pakan ternak, briket, pupuk cair, kompos, hingga produk kreatif seperti pot, paving, dan papan kenangan.
Operational Manager Selecta Yusuf mengatakan keberhasilan pengolahan sampah secara mandiri tersebut kini dikembangkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan pelajar.
Menurutnya, Selecta rutin menerima kunjungan sekolah mulai tingkat TK hingga SMA untuk belajar pengelolaan sampah dan pemanfaatan produk daur ulang.
"Kami memiliki paket edukasi tersendiri. Pengunjung tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar tentang pengolahan kardus, plastik, pakan ternak, briket, pupuk cair, kompos, hingga produk kreatif seperti pot, paving, dan papan kenangan," katanya, Jumat (24/4/2026).
Sementara itu, Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi mengatakan keberhasilan tersebut bermula dari krisis pembuangan sampah saat TPA Tlekung tidak lagi mampu menampung kiriman sampah dari Kota Batu pada akhir 2023.
"Saat itu pihaknya sempat mengandalkan vendor pengangkut sampah. Namun memasuki Februari 2024, kondisi berubah dan sampah tidak lagi bisa dibuang keluar kawasan," ujarnya.
Menghadapi situasi itu, manajemen Selecta mulai mencari solusi dengan mempelajari sistem pemilahan sampah mandiri. Mereka kemudian menggandeng Indonesia Menuju Hijau untuk memberikan pendampingan teknis.
Pada Maret 2024, sistem tersebut mulai berjalan. Sampah dipisahkan menjadi kategori organik, non-organik, dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Sampah non organik dipilah kembali menjadi plastik, kertas, dan material lain yang masih bernilai ekonomis. Sementara limbah B3 diserahkan kepada pihak ketiga berizin untuk pengelolaan khusus.
"Botol plastik, kertas, dan material lain masih bisa dijual kembali. Nilainya memang tidak besar, tetapi cukup membantu mengurangi biaya operasional," katanya.
Untuk sampah organik, Selecta memanfaatkannya menjadi pakan ternak dan pupuk bagi taman bunga di area wisata.
"Yang organik justru sangat berguna. Ada yang menjadi pakan ternak, ada juga yang diolah menjadi pupuk untuk tanaman kami," imbuh Ketua PHRI Kota Batu tersebut.
Tak berhenti di situ, sisa material seperti plastik kecil dan limbah sekali pakai diolah kembali menjadi produk turunan seperti paving block, bata, asbak, hingga kerajinan tangan.
Berkat inovasi tersebut, Selecta kini mampu menekan pembuangan sampah hingga nol keluar kawasan, kecuali limbah B3 yang ditangani secara khusus. Atas capaian itu, Selecta diresmikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sebagai pionir taman rekreasi, hotel, dan restoran berkonsep zero waste.
Dalam operasional sehari-hari, volume sampah yang dikelola mencapai dua hingga tiga kuintal per hari. Saat musim libur, jumlahnya meningkat menjadi enam sampai tujuh kuintal.
"Pengolahan dilakukan secara padat karya dengan melibatkan enam pekerja khusus di bagian pemilahan sampah, di luar petugas pengumpulan. Enam orang khusus memilah sampah. Semua masih mengandalkan tenaga manusia," tuturnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

