Menembus Negeri Sakura, UMKM Kota Batu Ini Tak Lagi Sekadar Tanaman Hias
Produk kerajinan tanaman hias berbasis sabut kelapa atau kokedama asal Kota Batu kian mencuri perhatian.
BATU – Produk kerajinan tanaman hias berbasis sabut kelapa atau kokedama asal Kota Batu kian mencuri perhatian. Tak hanya bertahan di pasar lokal, Creative Kokedama produksi CV Bunga Melati kini resmi menembus pasar Jepang dengan kontrak ekspor eksklusif hingga 2026.
Keberhasilan itu membuat Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang UMKM, Ubaidillah Amin, turun langsung meninjau lokasi produksi CV Bunga Melati di Jalan Pattimura, Kota Batu.
CV Bunga Melati sendiri bukan pemain baru. Usaha yang dirintis sejak 1986 itu awalnya bergerak di bidang pembibitan dan tanaman hias sebelum akhirnya mengembangkan inovasi kokedama sebagai produk bernilai tambah ekspor.
Owner CV Bunga Melati, Dwi Lili Indayani, menjelaskan bahwa kerja sama dengan mitra di Jepang telah berjalan sejak awal 2023 dan akan berlangsung hingga 2026.
"Untuk pasar Jepang, kami menggunakan bahan rotan alami 100 persen tanpa plastik. Mereka sangat ketat terhadap isu ramah lingkungan," ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Lili menambahkan, produk untuk pasar domestik menggunakan rotan sintetis karena lebih diminati konsumen lokal.
"Perbedaan bahan itu menjadi bagian dari strategi adaptasi pasar yang diterapkan perusahaannya. Sehingga semakin diterima pasar luar negeri," katanya.
Sementara itu, Staf Khusus, Ubaidillah Amin mengapresiasi konsistensi CV Bunga Melati dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi.
"Semoga tidak berhenti di Jepang. Ini harus jadi pintu masuk ke negara lain. Inovasi harus terus dilakukan agar produk kita semakin kuat di pasar global," ujarnya.
Ia juga mendorong pemanfaatan fasilitas pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) guna memperluas kapasitas produksi dan penetrasi pasar.
"Saya juga mengusulkan agar produk unggulan seperti Creative Kokedama dapat dipamerkan di pusat-pusat kreatif daerah sebagai showroom permanen agar mudah diakses calon buyer maupun wisatawan," tegasnya.
Senada, Kepala Kantor Bea Cukai Malang, J. Pandores, menegaskan komitmen pihaknya mendampingi UMKM melalui program Klinik Ekspor. Ia memastikan pendampingan dilakukan berkelanjutan agar pelaku usaha mampu memenuhi standar administrasi, kepabeanan, hingga regulasi negara tujuan.
"Klinik Ekspor kami siapkan sebagai wadah asistensi. Kami dampingi dari awal hingga produk benar-benar terkirim ke luar negeri," tuturnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




