Jejak Sarkies Family di Kota Batu, Warisan Sejarah Hotel Kolonial
Menelusuri jejak Sarkies Family di Kota Batu melalui Hotel Kartika Wijaya, bangunan kolonial bersejarah yang menjadi saksi perkembangan perhotelan dan perjuangan Indonesia.
BATU – Kota Batu layak menyandang julukan sebagai kota wisata sejati. Selain menawarkan ragam destinasi liburan keluarga dan wisata alam pegunungan, kota berhawa sejuk ini juga menyimpan jejak panjang sejarah perjuangan sejak era kolonial Belanda. Di balik gemerlap pariwisata modern, Kota Batu menyimpan kisah heritage yang masih jarang diketahui publik.
Salah satu saksi bisu sejarah tersebut adalah Hotel el Royale Kartika Wijaya Batu, bangunan cagar budaya peninggalan kolonial yang hingga kini masih berfungsi sebagai hotel. Berdiri sejak 1893, bangunan ini mengusung desain Indische Modern atau arsitektur Hindia Baru, yang menonjolkan perpaduan gaya Eropa dengan adaptasi iklim tropis Nusantara.
Pemiliknya adalah Sarkies Family, keluarga pengusaha perhotelan asal Armenia yang terkenal dengan ekspansi bisnis perhotelannya, terutama ke daerah Asia Tenggara. Berawal dari Martyrose Ter Martin, seorang Armenia bersama saudaranya Tigran Arshak dan Aviet Sarkies merantau ke Asia Tenggara pada abad ke-19.

Jejak bisnis perhotelan itu diteruskan oleh dua putra Martyrose, Aratin dan Lucas Sarkies. Keluarga ini membangun jaringan hotel di berbagai kota strategis yang menjadi pusat perdagangan dan mobilitas masyarakat, seperti Malaysia, Singapura, Myanmar, hingga Indonesia.
Di Kota Batu, Hotel Kartika Wijaya pada mulanya hanyalah sebuah villa keluarga, yang digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir keluarga Sarkies. Namun seiring waktu, bangunan tersebut berkembang menjadi hotel dan kini menjadi salah satu ikon heritage di Malang Raya.
Hotel Kartika Wijaya bukanlah hotel pertama yang dibangun keluarga Sarkies. Pada 1884, mereka mendirikan Eastern & Oriental Hotel di Penang, Malaysia. Mereka juga menyewa sebuah bangunan yang dijadikan hotel Crag di Bukit Penang.
Disusul pembangunan Raffles Hotel di Singapura pada 1887, dengan gaya arsitektur neo-Renaissance yang hingga saat ini menjadi ikon hotel di Singapura.
Di Myanmar tepatnya di daerah Yangoon, Sarkies Family mengakuisisi The Strand Hotel di Yangon pada 1901, sebuah hotel bergaya arsitektur Victorian.

Di Indonesia, selain Hotel Kartika Wijaya Batu, keluarga Sarkies juga mengelola Hotel Niagara di Lawang, Kabupaten Malang, serta Hotel Majapahit di Surabaya, dulu dikenal sebagai Hotel Yamato. Hotel Majapahit memiliki nilai historis tinggi karena menjadi saksi peristiwa heroik perobekan bendera Belanda oleh Arek-arek Suroboyo pada 1945.
Hingga kini, sebagian besar hotel milik keluarga Sarkies masih beroperasi dan terjaga keasliannya, kecuali Hotel Crag di Penang yang kini beralih fungsi menjadi hunian sewa.
Menurut Dino, pemandu wisata dari Mandala Creative House, Sarkies Family dalam sejarah perhotelan di Malang Raya berkontribusi besar terhadap perjalanan sejarah Indonesia. Karena itu, bangunan-bangunan peninggalan mereka patut dijaga dan dilestarikan.
“Keluarga Sarkies ini berperan penting dalam sejarah Indonesia,” ujar Dino saat memandu walking tour di depan Hotel Kartika Wijaya Batu, Selasa (20/1/2026). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


