Kota Batu Kini Punya Museum Pertanian Pertama, Isinya Alat Asli Berusia Lebih dari Seabad
TIMES Batu/Rianto saat menunjukkan beberapa koleksi museum kepada pengunjung. (Foto : Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)

Kota Batu Kini Punya Museum Pertanian Pertama, Isinya Alat Asli Berusia Lebih dari Seabad

Kota Batu kembali menghadirkan destinasi wisata berbasis edukasi yang tak biasa. Di kawasan Wisata Dusun Kuliner, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, berdiri Museum Cilik Dusun Kuliner, museum pertanian pertama di kota kecil yang menyimpan ratusan al

TIMES Batu,Rabu 25 Februari 2026, 16:09 WIB
246
G
Galih Rakasiwi

BATUKota Batu kembali menghadirkan destinasi wisata berbasis edukasi yang tak biasa. Di kawasan Wisata Dusun Kuliner, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, berdiri Museum Cilik Dusun Kuliner, museum pertanian pertama di kota kecil yang menyimpan ratusan alat tradisional bekas pakai.

Museum yang menjadi bagian dari pengembangan wisata edukasi tersebut menampilkan berbagai koleksi alat pertanian tempo dulu yang pernah digunakan masyarakat agraris. Seluruh koleksi dipastikan asli, bukan replika.

Salah satu inisiator museum, Rinto Agung Narimo, menjelaskan gagasan pendirian museum bermula dari hobinya mengoleksi benda-benda lama, terutama peralatan pertanian. Ide itu muncul sekitar lima bulan lalu dan mulai direalisasikan bertahap sejak November 2025.

“Daripada hanya disimpan, kami ingin koleksi ini bisa memberi manfaat sebagai sarana edukasi, khususnya untuk generasi muda agar mengenal alat pertanian tradisional,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Hingga sekarang, sedikitnya 100 alat pertanian telah dikumpulkan. Koleksi didominasi peralatan bercocok tanam padi dan jagung, alat pengolahan hasil pertanian, hingga perlengkapan kuliner tradisional. Jumlah tersebut, kata Rinto, masih akan terus bertambah.

“Ini masih museum kecil. Ke depan, koleksi sangat mungkin berkembang. Seluruh alat yang dipamerkan merupakan benda asli bekas pakai," bebernya.

article
Isi museum Cilik Dusun Kuliner yang menarik untuk dikunjungi sebagai wisata edukasi. (Foto : Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)

Ia sengaja tidak memoles atau membersihkannya secara berlebihan agar nilai autentiknya tetap terjaga. Sebab, sebagian besar alat-alat tersebut dulunya dibuat secara handmade dan benar-benar digunakan pada masanya. 

"Kami ingin keasliannya tetap terlihat. Museum ini tidak berfokus pada penentuan tahun detail setiap koleksi, melainkan pada fungsi serta nilai sejarahnya dalam kehidupan masyarakat. Informasi tambahan akan terus digali, termasuk melalui masukan para ahli pertanian dan budayawan yang berkunjung," terangnya.

Salah satu koleksi paling unik adalah Senggot yaitu alat tradisional penimba air dari sumur yang memanfaatkan bambu dan batang pohon sebagai sistem katrol sederhana. Alat tersebut diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun.

“Senggot kami dapatkan dari pedagang barang antik di Tulungagung. Dulu, sebelum katrol modern dikenal luas, masyarakat menggunakan sistem seperti ini untuk mengambil air,” paparnya.

Penamaan alat-alat pertanian, lanjutnya, berbeda-beda di tiap daerah meski fungsi dasarnya sama. Hal itu memperkaya khazanah budaya agraris Nusantara. Tak hanya pertanian, museum juga memamerkan alat tangkap ikan tradisional seperti jaring dan perangkap, mencerminkan mata pencaharian tambahan masyarakat sekitar sungai dan danau.

“Jenisnya disesuaikan dengan ikan yang ditangkap, mulai dari lele, wader, belut sampai udang,” ujarnya.

Bangunan museum merupakan hasil alih fungsi dari gedung bekas budidaya jamur. Dalam waktu dekat, Museum Cilik Dusun Kuliner akan dibuka terbatas untuk umum sebagai tahap uji coba.

“Kami buka bertahap untuk menerima masukan. Harapannya, Dusun Kuliner tak hanya dikenal karena makanannya, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan pelestarian seni budaya,” tutur Rinto.

Perlu diketahui, secara tata ruang, museum berdiri di atas lahan sekitar 7×25 meter. Di bagian depan, pengunjung akan disambut doa petani sebelum masa tanam serta narasi pengantar mengenai makna alat-alat tradisional seperti caping.

Di lorong utama dipamerkan peralatan pengolahan tanah seperti lempak dan cangkul, hingga alat angkut hasil panen berupa cikar. Seluruhnya menjadi saksi bagaimana roda perekonomian masyarakat bergerak sebelum era mesin modern.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Galih Rakasiwi
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kota Batu, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kontak Kami

  • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
  • (0341) 563566
  • [email protected]

Berlangganan

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Member Of

Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

SUPPORTED BY

Logo Varnion
© 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.