Jejak Wastra Indah di Kota Batu: dari Masa Keemasan Industri hingga Bangunan Sunyi
Kota Batu pernah memiliki denyut ekonomi lain yang sangat kuat yaitu industri tekstil PT Wastra Indah.
BATU – Di tengah citra Kota Batu sebagai kota wisata berhawa sejuk, tersimpan sejarah besar yang tak banyak diketahui generasi muda. Sebelum hotel, vila, dan taman hiburan tumbuh pesat, Kota Batu pernah memiliki denyut ekonomi lain yang sangat kuat yaitu industri tekstil PT Wastra Indah.
Nama Wastra Indah mungkin telah lama berhenti berproduksi, tetapi jejaknya masih hidup dalam ingatan warga Kota Batu.
Pabrik raksasa yang berdiri di Jalan Panglima Sudirman itu pernah menjadi kebanggaan daerah, sumber penghidupan ribuan keluarga, sekaligus simbol kemajuan ekonomi Kota Batu pada masanya.
Kini, bangunan bekas pabrik itu berdiri tua dan sepi. Cat dinding memudar, gerbang berkarat, hampir semua atap rusak, dan halaman dipenuhi rumput liar.
Namun bagi warga Batu generasi lama, tempat itu bukan sekadar bangunan kosong. Ia adalah saksi bisu masa ketika Kota Batu pernah hidup dari suara mesin-mesin tekstil dan langkah ribuan pekerja yang setiap hari keluar masuk gerbang pabrik.

Berdasarkan sejumlah catatan sejarah lokal, cikal bakal perusahaan ini bermula dari usaha tekstil yang berkembang pada dekade 1960-an. Perusahaan tersebut kemudian bertransformasi dan pada tahun 1976 masuk dalam jaringan usaha Texmaco Group milik pengusaha Marimutu Sinivasan. Sejak saat itu, nama PT Wastra Indah melesat sebagai salah satu industri tekstil besar di Jawa Timur.
Keberadaan Wastra Indah membawa perubahan besar bagi Kota Batu. Saat itu, Batu belum berstatus kota otonom seperti sekarang dan sektor wisata belum menjadi penopang utama ekonomi. Hadirnya pabrik tekstil berskala besar menciptakan lapangan kerja luas, memutar roda perdagangan, hingga mengangkat kesejahteraan banyak keluarga.
Pada masa jayanya, Wastra Indah mempekerjakan lebih dari 2.000 pekerja, bahkan sejumlah catatan menyebut lebih dari 3.000 orang pernah menggantungkan hidup di sana. Sekitar 90 persen pekerjanya berasal dari warga asli Batu dan sekitarnya. Mereka bekerja sebagai operator mesin, teknisi, administrasi, sopir, satpam, hingga staf manajemen.
Jalan Panglima Sudirman kala itu selalu ramai. Bus antar jemput karyawan hilir mudik dari berbagai penjuru daerah. Para pekerja berjalan berkelompok menuju pabrik mengenakan seragam biru muda dan biru tua. Suasana itu menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat Batu.
Tak hanya itu, bunyi sirine pabrik menjadi penanda waktu warga. Suaranya terdengar hingga berbagai sudut kota, menandai jam masuk kerja, pergantian shift, waktu istirahat, hingga jam pulang. Bagi masyarakat saat itu, jam Wastra Indah bahkan lebih dikenal daripada jam dinding.
Wastra Indah dikenal memproduksi pintalan benang dari kapas dan kain mentah jenis polyester georgette. Dari Batu, hasil produksi dikirim ke daerah lain seperti Karawang untuk proses lanjutan sebelum dipasarkan secara luas. Ini menunjukkan bahwa Kota Batu saat itu telah masuk dalam rantai industri nasional.
Keberhasilan ini menjadikan Batu tak hanya dikenal sebagai sentra pertanian apel dan sayur mayur, tetapi juga sebagai kawasan industri modern yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja.
Salah satu kisah paling kuat datang dari Muryono, mantan satpam PT Wastra Indah yang bekerja sejak 1981. Dalam laporan, ia mengenang pabrik itu sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. Ia mengatakan jika pabrik ini dulu sumber nafkah utama masyarakat.
"Dari sinilah kehidupan warga bergerak. Ekonomi Kota Batu sebagian besar bergantung pada Wastra Indah," bebernya, Selasa (28/4/2026).
Pernyataan itu menggambarkan betapa besar pengaruh Wastra Indah terhadap ekonomi lokal. Gaji ribuan pekerja berputar ke pasar tradisional, warung makan, angkutan umum, toko pakaian, hingga sektor pendidikan anak-anak mereka. Banyak rumah tangga di Batu berdiri kuat berkat pabrik tersebut.
Namun kejayaan itu tak berlangsung selamanya. Krisis ekonomi 1997-1998 menghantam Indonesia dan menyeret banyak konglomerasi besar, termasuk Texmaco Group. Beban utang perusahaan yang sangat besar membuat operasional terganggu. Pabrik akhirnya berhenti beroperasi pada Maret 2004.
Sebanyak 2.310 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja. Dampaknya sangat besar bagi Kota Batu. Ribuan kepala keluarga kehilangan pendapatan tetap dalam waktu bersamaan. Banyak mantan karyawan kemudian beralih profesi menjadi pedagang kecil, buruh serabutan, petani, tukang ojek, hingga pekerja informal lainnya.
Beberapa artikel menyebut ekonomi Kota Batu saat itu tidak cukup mampu menyerap limpahan tenaga kerja eks Wastra Indah. Kota kehilangan lapangan kerja sekaligus kehilangan generasi ahli mesin dan operator industri tekstil yang terbentuk selama puluhan tahun.
Masalah lain yang membekas adalah soal pesangon. Dalam berbagai pemberitaan, sebagian eks pekerja mengaku hak mereka dibayar bertahap dan nilainya jauh dari harapan.
Bahkan informasinya masih ada mantan pekerja yang merasa persoalan itu belum tuntas hingga bertahun-tahun setelah pabrik tutup.
Hal itu menunjukkan bahwa runtuhnya sebuah industri tidak hanya soal bangunan yang berhenti beroperasi, tetapi juga menyisakan persoalan sosial panjang bagi ribuan keluarga pekerja.
Pada tahun 2021, aset bekas pabrik Wastra Indah sempat disita negara dalam proses penanganan piutang Texmaco terkait kasus BLBI. Peristiwa itu kembali mengingatkan masyarakat pada nama besar perusahaan yang pernah berjaya di Kota Batu.
Kini, generasi muda mungkin hanya melihat bangunan tua di pusat kota. Namun bagi warga lama, Wastra Indah adalah bagian penting sejarah Batu era ketika kota kecil ini tidak hanya hidup dari wisata, tetapi juga berdetak lewat industri yang memberi makan ribuan keluarga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

